Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Monday, October 5, 2020

Pesan Taqwa Ali Bin Abi Thalib


KATAFAJAR-
Sering kita mendengar iman manusia bertambah dan berkurang, banyak faktor yang mampu mempengaruhi hal tersebut, mulai dari kesalahan dan kekhilafan umum seorang hamba hingga tingkat ketaqwaan manusia yang berbeda. Maka seorang hamba hendaknya senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan mendalami beberapa sifat manusia bertaqwa yang telah dijelaskan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yakni Ali bin Abi Thalib
 karramallahu wajhah tentang empat sifat manusia yang bertakwa kepada Allah.

Ciri pertama, adalah Al-Khaufu minal-Jalil, yakni manusia yang merasa takut kepada Allah yang mempunyai sifat Maha Agung. Jika kita renungkan berapa banyak dari kita yang benar-benar takut kepada Allah? hingga kita sadar betul bahwa Allah selalu mengawasi gerak-gerik kita dan ada dua malaikat yang senantiasa mencatat amal baik dan buruk kita.

Ciri kedua, adalah Al-‘Amalu bi At-Tanzil, yakni manusia yang beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah. 

Ciri ketiga, adalah Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah swt, Sebagaimana perintah Allah untuk selalu bersyukur hingga ditambah nikmat oleh-Nya, karena sesungguhnya rezeki hidup kita cukup memenuhi kebutuhan hidup kita tapi tidak akan dapat cukup memenuhi gaya hidup kita.

Ciri keempat, adalah Al-Isti`dadu li Yaumir-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah.

Maka jika empat ciri orang bertakwa itu ada pada seseorang, maka seseorang telah mampu mencapai derajat tertinggi yang tidak mementingkan duniawi dan predikat muqarrabin yakni hamba yang dekat dengan Allah.

Tuesday, September 22, 2020

Tuhan Tidak Butuh Manusia


KATAFAJAR-
Setiap manusia harus membangun hubungan baik dalam kehidupannya sebagai pondasi keharmonisan hidup. Tentu kita mengenal dengan istilah Habblum min-Allah (Hubungan dengan Allah), Hablum minan-Nas (Hubungan dengan Manusia), dan Hablum minal-'Alam (Hubungan dengan alam dan sesama makhluk). Dan dalam menjalaninya, manusia akan memperlihatkan mentalitasnya dalam membangun relasi dengan Tuhan. 

Pertama, mentalitas budak (abid), yakni ia mengandalkan Tuhan sebagai majikannya atau tuannya. Ia hanya beribadah semata-mata karena diperintah Tuhan. Baginya, hiduo hanyalah untuk melayani majikan. Ia selalu berusaha membuat majikannya senang dan bahagia dengan menuruti seluruh perintahnya dan sebisa mungkin tidak melanggar aturannya hingga hidupnya adalah milik majikannya.

Kedua, mentalitas pedagang (tujjar), yakni ia yang selalu berbicara untung rugi. Baginya hidup adalah bekerja berwujud ibadah untuk Tuhannya. Karena itu ia selalu berharap dan menuntut upah berupa pahala dari pekerjaan tersebut. Tuhan wajib memberi upah dari seluruh pekerjaannya di dunia ini, tapi Tuhan juga berhak menghukum dia ketika malas atau melanggar "kontrak kerjanya".

Ketiga, mentalitas orang-orang pilihan (khiyar) yakni yang tidak lagi berpikir untung rugi dalam bentuk surga neraka atau karena ada tekanan dari majikannya (Tuhan). Baginya, beribadah adalah bagian dari eksistensinya di dunia ini. Ia butuh beribadah karena ia memang membutuhkannya. Semakin tekun, khusyuk, dan rajin beribadah, ia semakin menemukan kesejatiannya sebagai manusia. Ia tak peduli surga neraka karena itu urusan Tuhannya. Dan ia menyatu dengan Tuhannya karena ia tak pernah mengambil jarak dengan-Nya.

Tuesday, May 14, 2019

Mata Penglihatan



Berbicara puasa tentu kita akan teringat istilah arabnya yaitu "shiyam". Pertanyaannya kenapa shiyam dalam bahasa arab berubah di Indonesia menjadi kata Puasa? Ternyata ini adalah strategi kebudayaan dalam menerjemahkan istilah arab ke dalam kultur nusantara. Dan puasa itu sendiri diseraap dari bahasa jawa yak Poso yang berarti mupus roso atau menata hati dan sampai pada bahasa melayu berubah menjadi puasa.
oleh karena puasa adalah menata hati, maka dalam keseharian hendaknya jika kita meluapkan isi hati haruslah proporsional. jika senang, sedih, tawa, tangis, marah maka luapkan dengan proporsional dan jangan berlebih. misalnya jangan sampai marah seharian, nangis seharian, dan lainnya.
Jika sejak kecil kita belajar puasa karena iming-iming hadiah/reward, masihkah saat ini puasa kita karena hal tersebut? Jika masih, maka kualitas puasa kita masih sama seperti kita saat kecil. Jika masih, maka mulailah puasa kita untuk berbeda dan meningkat dari sisi kualitasnya.
Abu Hasan Asy Syadzili guru Thariqah Syadziliyah dalam manaqibnya
"إِذَ أَرَدْتَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَى اللهِ بِبَشِيْرَةِ الْإِيْمَنِ وَالْإِتْقَانِ دَائِمًا # فَكُنْ بِنِعَمِ اللهِ شَاكِرًا وَكُنْ بِقَضَائِهِ رَاضِيًا"
"Jika kamu ingin selalu melihat Allah dengan penglihatan keimanan dan keyakinan, maka jadilah hamba yang bersyukur atas nikmat-Nya dann Ridlo dengan segala ketentuannya"
Melihat di atas bukanlah melihat secara zahir, karena memang tak ada terjemahan lain yang tepat dalam bahasa arab untuk kata "an-tandzuro" selain melihat. Dalam melihat kita tentu menggunakan mata sebagai alat penglihatan. Dan dalam Bahasa Arab ada 2 kata yang dapat dimaknai sebagai mata:
Pertama, adalah "ainun" yang berarti mata secara biologis, dimana semakin tua usianya maka kondisinya akan semakin melemah dan memburuk.
Kedua, adalah "basyiroh" yang berarti mata batin, dimana semakin tua dan semakin diasah dengan baik maka kondisinya akan semakin baik dan tidak akan menipu.
Selamat berpuasa, semoga puasa kita lebih baik dari sebelumnya.

Wednesday, May 8, 2019

Instrument Puasa


Ramadhan memiliki sebuah amalan khusus yang mampu menjadi item penempa pribadi manusia yaitu puasa. Puasa sendiri hakikatnya menjadi instrumen penting dalam membentuk manusia dalam rangkla mencapai tujuan akhirnya.
Pertama, puasa menjadi instrumen religiusitas, kita simak ayat "رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ" , dengan ayat ini kita dapat merefleksi diri sendiri, dan salah satunya dengan puasa sebagai jeda spiritual untuk berkontemplasi tentang makna diri, makna hidup, dan makna kehidupan.
Kedua, puasa menjadi instrumen ritual interpersonal manusia dengan Tuhannya melalui berbagai ibadah yang ada di dalamnya. Salah satu ritual tersebut termaktub dalam firmannya "وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا" yakni tahajud sebagai salah satu sarana khusus untuk berharap tempat yang terpuji semua makhluk.
Ketiga, puasa menjadi instrumen menahan godaan konsumerisme, hedonisme, syahwat harta benda, dan syahwat kekuasaan yang natural ada pada diri manusia. dalam artian puasa juga sebagaii tameng manusia dari maksiat.
Keempat dalah point yang paling penting yaitu puasa menjadi instrumen manusia untuk senantiasa merasakan kehadiran Tuhan, merasakan dengan penuh harap untuk mendapatkan rahmat-Nya. Dan ini dalam rangka mencapai tititik akhir dekat dengan Allah, yang digambarkan dengan ayat "لَعَلَّكُمْ تَتَّفُوْنَ" sampai pada fase merelfleksikan semua sifat ketuhanan dalam kehidupan manusia.

Tuesday, May 7, 2019

Pintu Allah


Mengawali ramadhan yang baik adalah dengan memperdalam ilmu sebagai bekal agar kita paham dan tahu bagaimana ibadah kita dan berbagai problematikanya agar semua yang kita lakukan diterima Allah SWT dan jangan sampai apa yang kita lakukan sia-sia.
Maka hikmah Syekh Ibnu Athaillah sangat baik untuk kita renungi.
ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذنب فكان سبباً في الوصول
Artinya, “Kerapkali Allah membuka pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaannya. Namun terkadang Dia menakdirkanmu sebuah dosa, dan itu menjadi wasilahmu sampai ke hadirat-Nya.”
Bagaimana ceritanya Allah buka pintu ketaatan namun tak membuka pintu penerimaan ketaatan. Dan dosa yang dilakukan justru sampai kehadiratnya.
Bagaimana maksud hikmah tersebut? Syekh Syarqawi mencoba memahami hikmah tersebut dengan makna “Itu terjadi karena ketaatan kita kerapkali disertai dengan bencana yang mencederai keikhlasan seperti takjub atas amal, pengandalan amal, perendahan (dalam hati) terhadap orang yang tidak mengamalkan ketaatan itu. Ini mencegah penerimaan amal. Sementara dosa seseorang yang disertai dengan penyandaran diri dan permohonan ampunan kepada Allah, perendahan terhadap diri sendiri, dan penghormatan terhadap mereka yang tidak melakukannya, menjadi sebab datangnya maghfirah dan wasilahnya sampai ke hadirat-Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihaya’il Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 72).
Amal ibadah bukan sekadar lahir, namun mencakup lahir dan batin. Artinya, ketika seseorang melakukan shalat, puasa, zakat, haji, atau umrah, maka batinnya juga harus ikut beribadah dalam bentuk penahanan diri dari sifat tercela yaitu ujub, tinggi hati, dan merendahkan orang lain yang tidak mengamalkan ibadah itu. Orang yang beribadah secara lahiriyah saja belum sampai kepada Allah.
Di sisi lain, orang yang berbuat kesalahan atau maksiat yang membuatnya tak percaya diri di hadapan Allah dan membuatnya berhenti dari penghinaan terhadap orang lain, membuka jalan baru baginya untuk sampai kepada Allah.
Maka intinya adalah beribadah harus dilakukan secara lahiriah dan batiniah dan disempurnakan dengan merendahkan diri di hadapan Allah, memperbaiki diri, menghargai orang lain, dan memandang orang lain dengan pandangan rahmat.